SIAPAKAH AKU ?
Seringkali ada orang bertanya, “Siapakah Aku?” atau “Siapakah
diriku sebenarnya?”
Kajian tentang diri ini amat penting, karena dengan mengenalnya kita akan mengenal Tuhan Sang Pencipta .
Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,“Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu,”
“ barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Rabb-nya.”
Dengan memahami diri kita dapat menjalankan misi hidup secara sempurna, yaitu mengenal Allah.
Menyembah hanya kepada-Nya dan akan kembali kepada-Nya.
Kita tentu tidak ingin kembali kepada-Nya dalam keadaan tersesat, sebagaimana firman Allah:
“Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)” (QS 2:18).
aku terkadang bingung dan ragu untuk mengungkapkan isi hati dan keinginnanku.
ragu kalau banyak orang menertawakan aku,menghina aku,mengagumi aku dan mengungkit akan hal aku.
aku takut aku bingung ..
tetapi sampai kapan aku harus dibayang bayangi rasa ragu aku ini ..
aku hanya bisa menulis dan mengungkapkan semuanya yang ada di dalam otak dan hati ku di dalam buku.
didalam bukulah aku mersa aman, dan yakin akan semua janji dan rahasia pribadiku bisa aku simpan dengan rapat dan bersih.
tetapi tuhan apakah yang aku lakukan ini sudah benar ?
sampai saat ini aku masih bertanya “siapakah aku ?”
Sudah cukup jauh aku melangkah membuktikan sesuatu yang kuyakini kebenarannya.
Bahwa aku bukan hanya segumpal daging penuh aliran darah yang membungkus tulang belulang
Sudah cukup lelah aku berlari mencari sesuatu yang tak pasti.
Sebuah jati diri yang masih tak sanggup kutemukan
Aku ingin menembus sebuah batas, batas yang tiada batasnya ..
Tidak tahu pada siapa aku bertanya…
Siapakah Aku…??
Aku mulai lelah…
Aku mulai kehabisan tenaga…
Sejenak aku berhenti…
Aku gelisah…
Aku dalam kebimbangan…
Aku dihadapkan pada 2 jalan yang sama-sama berliku…
Aku tak sanggup melanjutkan perjalanan ini…
Aku takut…
Dan kakiku terasa berat untuk melangkah…
Namun aku tak bisa kembali…
Karena aku tak punya dasar…
Aku mencoba berdiri dengan sisa tenagaku…
Aku menatap langit…
Kemudian aku bertanya dalam hati ..
Siapakah aku.. ??
Siapakah aku...??
Siapakah aku.. ??
tetapi hati pun tidak menjawab pertanyaanku
Semua yang ada di sisiku hanyalah warna-warna kehidupanku…
Hanyalah pelengkap kehidupanku…
Kemudian aku bertanya kepada teman teman ku
Siapakah aku.. ?
teman ku pun menjawab “kamu vanny. “
jawabannya pun aku hiraukan karna bukan itu maksut dari pertanyaanku.
sejenak aku pun kembali terdiam sambil berfikir siapakah aku ?
mengapa semua yg aku tanya akan diriku ini tidak ada yg tahu ?
apakah tidak ada 1 pun yg tahu siapakah aku ?
kemudian aku bertanya kepada tuhan di dalam setiap doaku
tuhan..
siapakah aku sebenarnya tuhan ? untuk apa aku diciptakan ?
apakah aku akan berguna ? ataukah tidak ?
tetapi tuhan pun diam tidak menjawab seakan tidak ingin memberi tahu siapakah aku
kemudian aku berhenti sejenak memikirkan pertanyaan “siapakah aku”
dan akupun menjalani kehidupanku seperti biasanya, supaya aku bisa lebih memahami siapa aku sebenarnya
tetapi tak ada 1 pun jawaban yg aku temukan.
kemudian aku bertanya kepada ahli agama “siapakah aku?”
mereka pun menjawab
“untuk memahami dirimu sendiri silahkan kamu pahami ini”
1. Ruh
Dalam Al Quran, disebut dengan Ar-Ruh (jamaknya arwah)
Asal unsurnya dari ruh (sebagian zat Allah) yang ditiupkan ke manusia saat janin berumur 4 bulan.
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS 32:9)
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya". (QS 38:72)
Setelah ajal akan kembali kepada Allah Ta’ala. Ruh ini sifatnya suci, tidak pernah kotor dan berada di dalam qalbu manusia (sebuah tempat yang tidak dapat dimasuki setan) dan berfungsi memberikan energi untuk nafs, dan memberi nyawa (sukma) bagi jasad
2. Jasad
Asal unsurnya dari bumi (QS 71:17) dan setelah ajal akan dikubur dan kembali ke bumi.
Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. (QS 20:55)
Karena sifat kebumian, maka ketika dimasukkan ruh dan nafs, timbullah hawa nafsu dan syahwat. Jasad mendapatkan energi dari makanan yang berasal dari bumi juga.
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS 3:14)
3. Nafs
Dalam Al Quran disebut dengan An-Nafs (jamaknya anfus atau nufus), asal unsurnya adalah dari cahaya. Di alam Nur berkumpul nafs-nafs, mulai nafs manusia pertama sampai nafs manusia terakhir.
Nafs ini terdiri dari berbagai macam type atau kualitas. Untuk memudahkan memahami, sebut saja misalnya, tipe emas, perak, perunggu dan sebagainya. Nafs-nafs ini akan diundang oleh janin-janin dalam rahim yang telah berumur 120 hari. Nafs yang bersedia datang pun sesuai dengan bahan janin, nafs tipe emas akan menempati wadah dari emas, nafs tipe perak akan menempati wadah dari perak dan seterusnya.
Nafs yang menempati janin tersebut dimasukkan Ruh, kemudian dipanggil Allah menghadap ke Alam Alastu :
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu
tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS 7:172)
Di alam Alastu inilah Allah telah menetapkan 4 hal baginya selama perjalanan di dunia, yaitu: Ajal, Rezeki, Amal, dan Musibah atau Keberuntungan.
Nafs inilah sebenarnya hakikat dari manusia, yang dikatakan Nabi Saw, apabila kamu mengenalnya, maka kamu akan mengenal Tuhanmu. Nafs inilah yang menyebabkan manusia menjadi makhluk paling mulia.
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS 95:4)
Apabila qalbu bersih, maka ruh dapat memberikan energi bagi nafs, sehingga nafsnya hidup sehat dan dalam Al Quran disebutlah sebagai nafs al muthmainnah. Apabila qalbu tertutup dosa, maka ruh tidak dapat memberikan energi, maka nafsnya akan sakit, buta, tuli, bisu dan lumpuh.
Setelah ajal, kondisinya sesuai dengan kondisi nafs terakhir sebelum ajal. Apabila dalam kondisi sehat, maka nafsnya akan tetap hidup di sisi Allah.
Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS 6:122)
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS 2:154)
Apabila dalam kondisi buta, tuli, bisu atau lumpuh, maka ia akan disiksa di alam kubur. Nafs akan dimintai pertanggungjawabannya pada Hari Akhir, atas pelaksanaan sumpah yang dilakukan di Alam Alastu.
4. Hawa Nafsu dan Syahwat
Hawa nafsu dan syahwat timbul akibat nafs dan ruh ditempatkan dalam jasad. Hawa nafsu dan syahwat dalam Al Quran digambarkan sebagai kuda-kuda, tali kekangnya adalah qalbu, saisnya adalah nafs, dan muatannya adalah jasad. Apabila saisnya (nafs) sakit atau lumpuh, maka kuda-kuda (hawa nafsu dan syahwat) berlari-lari tidak terkendali membawa muatan (jasad).
Setan menjadikan hawa nafsu dan syahwat ini sebagai media untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Sesungguhnya nafsu itu membawa kepada keburukan, kecuali nafsu yang dirahmati (nafsu al muthmainnah)
. Qalbu
Qalbu terbagi 2 jenis, Qalbu jasmaniah dan Qalbu Ruhaniah. Qalbu
jasmaniah yaitu jantung yang secara medis dianggap sebagai pusat kehidupan manusia, sedangkan Qalbu Ruhaniah yaitu yang merasakan dan memahami. Lebih jauh lagi qalbu inilah yang akan dapat mengenal Allah Swt, maka disebut pula Qalbu Rabbaniyah.
Qalbu menjadi antara bagi ruh, nafs dan jasad. Qalbu dan nafs ibarat kaca dengan rasahnya, apabila qalbu kotor maka tidak berfungsilah nafs sebagai cermin. Apabila qalbu bersih, maka ia dapat memantulkan ruh (zat) Allah. Maka jadilah ia pencerminan dari Allah Swt.
Rasulullah Saw. bersabda, “Dalam diri manusia itu ada segumpal darah, yang apabila baik maka baik seluruhnya, tetapi apabila buruk maka buruk seluruhnya, itulah qalbu.” (HR. Bukhari)
Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian dan tidak pula kepda rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada qalbu kalian.” (HR. Muslim)
Rasulullah Saw bersabda, “Apabila dikehendaki oleh Allah kebajikan pada seorang hamba, niscaya dijadikannya orang itu memperoleh pelajaran dari qalbunya.” (HR. Abu Manshur Ad-Dailamy)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Sekiranya setan-setan
tidak mengelilingi qalbu anak-cucu Adam, niscaya mereka dapat memandang alam malakut yang tinggi.” (HR. Ahmad)
Dan kemudian akupun mengerti siapakah aku ini.
aku bisa menyimpulkan bahwa :
aku hanyalah sebuah pasak ditangan tuhan
untuk memecahkan es besar dan keras.
aku hanyalah sepercik api kecil yang dinyalakan tuhan
untuk memanaskan dan mencairkan hati manusia yang beku.
aku hanyalah sebatang kuas tua yang dipakai tuhan
untuk memoles warna-warna indah ke sebuah kanvas lukisan
aku adalah diri sendiri
bukan kamu
bukan dia
dan bukan mereka
intinya
Seorang individu akan menjadi otentik karena dia menjadi dirinya yang dimauinya sendiri, bukan terutama karena harapan, nasihat, atau perintah orang lain, tetapi atas pilihannya sendiri. “Siapakah Anda?”
Hanya Anda sendirilah yang paling berhak dan mampu menjawabnya secara berarti.
0 komentar:
Posting Komentar